Minggu, 14 Desember 2008

PESAN HAJI Imam Ali Khamenei


07/12/2008
Bismillahirrahmanirrahim
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang)

Untuk kesekian kalinya, negeri wahyu menghimpun jumlah besar kaum Mukminin dalam jamuan tahunannya. Kini, di tanah kelahiran Islam dan Al-Quran, betapa jiwa-jiwa perindu dari seluruh penjuru dunia gairah melaksanakan manasik-manasik yang - dengan merenungkan makna-maknanya - dapat menampilkan selayang dari pelajaran abadi Islam dan Al-Quran kepada umat manusia. Itulah amalan-amalan yang merupakan langkah-langkah simbolik dalam menerapkan dan mengamalkan pelajaran tersebut.

Tujuan dari pelajaran besar ini ialah kesuksesan dan kebanggaan abadi manusia yang dicapai dengan jalan mendidik manusia yang shaleh dan membentuk masyarakat yang juga shaleh. Manusia yang shaleh yaitu manusia yang menyembah Allah Yang Maha Esa dengan hati dan perilakunya, membersihkan dirinya dari kesyirikan dan kotoran-kotoran akhlak serta keinginan-keinginan yang menyimpang. Dan masyarakat yang shaleh yaitu masyarakat yang dalam rangka pembangunannya, menerapkan nilai keadilan, kemandirian, keimanan, kegigihan dan segenap tanda-tanda kehidupan dan kemajuan.

Dalam kewajiban ibadah haji, benih-benih dasar pendidikan personal dan sosial telah ditanamkan. Mulai dari berihram, menanggalkan identitas-identitas pribadi dan meninggalkan sekian banyak kesenangan dan keinginan hawa nafsu, hingga bertawaf di sekeliling lambang Tauhid, melakukan shalat di maqam Ibrahim -seorang nabi penghancur berhala dan bapak pengorbanan- dan mulai dari bergerak cepat di antara dua bukit hingga beristirahat di padang Arafat di tengah hamparan luas orang-orang yang beriman dari berbagai etnis dan warna kulit, serta menghabiskan satu malam dengan dzikir dan doa di padang Masy'aril Haram, kerinduan masing-masing hati bersama Allah di tengah keramaian gelombang umat, kemudian berada di Mina dan melontar lambang-lambang setan, lantas mewujudkan makna berkurban dan memberi makan kepada kaum miskin serta orang-orang yang dalam beban perjalanan. Semua dan semua ini adalah pendidikan, pembinaan dan penyadaran.

Dalam rangkaian (manasik) yang lengkap ini; dari satu sisi, ada ketulusan dan kejernihan serta keterputusan hati dari kesenangan-kesenangan dunia; dari sisi lain, ada usaha dan kerja serta kegigihan; dari sisi lain, ada keintiman dan kesendirian bersama Allah; dari sisi lain, ada kesatuan dan keseutuhan hati serta kesetaraan antarsesama makhluk; dari sisi lain, ada upaya merias hati dan jiwa; dari sisi lain, ada kepercayaan pada solidaritas satu tubuh besar umat Islam; dari sisi lain, ada kekhusyukan di hadapan Allah; dari segi lain ada ketegaran berdiri di hadapan kebatilan; singkatnya, hidup dalam suasana akhirat dari satu sisi, dan kehendak yang kuat untuk merias dunia dari sisi lain. Semua sisi-sisi ini diajarkan dan dipenatarkan secara utuh dan terpadu. Allah Swt. berfirman;

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Dan dari mereka ada yang berkata, ‘Ya Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka." (Al-Baqarah: 201).

Demikian pula Ka'bah yang mulia dan manasik-manasik haji sebagai bekal keberadaan dan kebangkitan masyarakat dan kekayaan manfaat bagi umat manusia.

جَعَلَ اللّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِّلنَّاسِ
"Allah telah menjadikan Ka'bah; rumah Suci itu sebagai pusat (peribadatan dan kehidupan) bagi manusia." (Al-Ma'idah: 97).

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
"Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan." (Al-Hajj: 28).

Hari ini, kaum Muslimin dari berbagai negara dan suku bangsa harus lebih dari biasanya; menghargai kewajiban besar ini dan memanfaatkannya, karena ufuk di depan mata umat Islam sekarang lebih cerah dari sebelumnya, dan harapan untuk mencapai cita-cita - yang telah digariskan oleh Islam bagi setiap orang dan masyarakat Muslim - semakin lebih terang dari biasanya. Jika umat Islam selama dua abad sebelum ini telah tertimpa keruntuhan dan kegagalan di hadapan peradaban materialistik Barat dan sistem-sistem ateistik dengan berbagai kubu kanan dan kiri mereka, namun kini, di abad kelima belas Hijriyah ini, sistem-sistem politik dan ekonomi Baratlah yang justru terperangkap dalam lumpur dan menderita kelemahan, keruntuhan dan kekalahan. Sementara dengan kesadaran kaum Muslimin, kebangkitan identitas diri mereka, mengemukanya pemikiran yang berasas pada tauhid, logika keadilan dan spiritualitas, maka Islam telah memulai kembali sebuah era baru dari kemajuan dan kewibawaannya.

Orang-orang yang -dalam beberapa masa lalu- membacakan ayat-ayat putus asa dan percaya bahwa bukan hanya Islam dan kaum Muslimin, bahkan pondasi spiritualitas serta hidup beragama telah lenyap di bawah serangan peradaban Barat, akan tetapi sekarang mereka itu justru sedang menyaksikan kekuatan Islam, kebangkitan Al-Quran dan Islam, sekaligus juga kelemahan dan keruntuhan bertahap musuh-musuh yang agresor itu. Mereka menerima kenyataan ini dengan hati dan lisan mereka.

Dengan penuh keyakinan, saya tegaskan bahwa ini masih awal perubahan. Namun, wujud sempurna dari janji Allah ialah unggulnya kebenaran di atas kebatilan, dan kebangkitan umat Al-Quran serta peradaban baru Islam sedang dalam proses.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka menjadi aman sentausa sesudah mereka dalam ketakutan; mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik" (Al-Nuur: 55).

Tanda dari janji yang pasti terwujud ini, pada tahap pertama dan terpenting, ialah kemenangan Revolusi Islam di Iran dan bangunan menjulang negara Islam yang telah mengubah Iran menjadi basis yang kokoh untuk pemikiran kedaulatan dan peradaban Islam. Peristiwa spektakuler ini terjadi tepat pada saat memuncaknya kampanye materialistik dan gerakan pemikiran dan politik - kanan maupun kiri - yang anti-Islam. Namun tiba-tiba muncul perlawanan dan kegigihannya menghadapi hantaman-hantaman politik, militer, ekonomi dan propaganda-propaganda yang dilancarkan dari segenap arah. Perlawanan dan kegigihannya telah menghembuskan harapan baru di dunia Islam dan menciptakan gairah dalam jiwa-jiwa. Semakin waktu berlalu, kegigihan ini - berkat kekuatan dan inayah Allah Swt. - semakin meningkat dan harapan itu pun semakin kuat mengakar. Sepanjang tiga dekade berlangsung pada perubahan ini, Timur Tengah dan negara-negara Muslim Asia dan Afrika menjadi medan konfrontasi yang penuh dengan kemenangan.

Palestina, intifada Islam, berdirinya pemerintahan Palestina dan kaum Muslimin; juga Lebanon dan kemenangan bersejarah Hizbullah dan Moqawamah Islamiyah ‘Perjuangan Islam' atas rejim kejam dan haus darah Zionis [Israel]; Irak dan terbentuknya pemerintahan Muslimin dan demokratis di atas puing-puing rejim ateis dan diktator Saddam; Afganistan dan kekalahan yang memalukan Uni Soviet dan rejim boneka mereka di sana; demikian pula kekalahan dan kegagalan seluruh politik-politik arogansi Amerika untuk berkuasa di atas Timur Tengah; persoalan dan kekacauan yang tak teratasi di dalam rejim perampas hak (Zionis Israel); juga kejutan kemajuan ilmu dan teknologi di negara Republik Islam Iran walaupun di bawah tekanan embargo ekonomi; kekalahan tim penyulut perang di Amerika dalam kancah politik dan ekonomi; kesadaran identitas dan jati diri pada minoritas-minoritas Muslimin di sekian banyak negara-negara Barat; semua dan semua ini adalah tanda-tanda yang nyata dari kemenangan dan kemajuan Islam dalam konfrontasi dengan musuh-musuh di abad ini; yakni di abad kelima belas Hijriyah.

Saudara-saudari! Kemenangan dan keunggulan ini semata-mata hasil dari jihad ‘perjuangan' dan keikhlasan. Yaitu, ketika suara Allah dari rongga hamba-hamba Allah sampai ke telinga; ketika semangat dan tenaga para pejuang di jalan kebenaran tumpah di tengah medan, ketika kaum Muslimin membuktikan ikrar dan janjinya dengan Tuhan mereka, maka ketika itulah Allah Yang Maha Tinggi Maha Kuasa akan membuktikan nyata janji-Nya sehingga perjalanan sejarah pun pasti berubah.

وَأَوْفُواْ بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ
"Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu." (Al-Baqarah: 40).

إِن تَنصُرُواْ اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolongmu dan mengokohkan kedudukanmu." (Muhammad: 7).

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
"Dan Allah benar-benar akan menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah-lah Maya Kuat lagi Maha Perkasa." (Al-Hajj: 40).

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُواْ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
"Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan di hari bangkitnya saksi-saksi." (Al-Ghafir: 51).

Ini semua adalah awal perjuangan. Bangsa-bangsa Muslim masih dihadang oleh tantangan-tantangan besar. Tantangan-tantangan ini tidak dapat dilewati kecuali dengan keimanan dan keikhlasan, dengan harapan dan jihad, dengan ketajaman pandangan dan kesabaran. Jalan ini tidak dapat ditempuh dengan putus asa, pikiran negatif, acuh tak acuh, kehendak yang lemah, tanpa kesabaran dan ketergesa-gesaan, ataupun dengan prasangka buruk terhadap kebenaran janji Allah Swt.

Musuh yang sudah terluka telah dan akan terus mengerahkan segenap kekuatan mereka. Kita harus waspada, sadar, berani dan tahu peluang. Dengan cara inilah semua upaya musuh pasti gagal. Selama tiga puluh tahun ini, musuh itu-yakni terutama Amerika dan Zionisme Israel-selama ada di kancah dengan segenap kekuatan yang bisa mereka gunakan, akan tetapi mereka tetap gagal. Pada masa-masa yang akan datang pun mereka akan terus gagal, insyaallah.

Brutalnya tindakan musuh pada umumnya merupakan tanda dari kelemahan dan kegegabahan mereka. Lihatlah Palestina, khususnya Jalur Gaza. Tindakan-tindakan kejam dan jahat musuh (Israel) di Jalur Gaza - yang jarang ditemukan semacamnya dalam sejarah kekejaman manusia - adalah tanda dari begitu lemahnya mereka dalam menundukkan kehendak kuat kaum lelaki, kaum perempuan, anak-anak muda dan anak-anak belia yang tetap gigih menghadapi rejim militer Israel dan pelindungnya; yakni Adikuasa Amerika, dan mereka mencampakkan tuntutan negara-negara ini supaya mereka tidak lagi memihak pemerintahan Hamas.

Salam sejahtera Allah atas bangsa pejuang dan besar itu! Rakyat di Jalur Gaza dan pemerintahan Hamas telah membuktikan makna ayat-ayat abadi ini,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ. أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Baqarah: 155-157).

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيرًا وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ
"Kalian sungguh-sungguh akan diuji dalam harta dan diri kalian, dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (Al ‘Imran: 186).

Pihak pemenang terakhir dalam konfrontasi antara kebenaran dan kebatilan ini tidak lain hanyalah kebenaran. Dan inilah bangsa Palestina yang tertindas dan gigih yang pada akhirnya akan mengalahkan musuh,

وَكَانَ اللَّهُ قَوِيّاً عَزِيزًا
"Dan sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa."

Pada hari-hari ini pun, selain kegagalan dalam menumpas perlawanan rakyat Palestina, sebuah kegagalan besar telah merusak kewibawaan pemerintahan Amerika dan lebih besar lagi bagi negara-negara Eropa; kegagalan yang tak dapat dibayar kerugiannya dalam waktu sesingkat ini, yaitu dengan bohong mengaku diri dalam kancah politik sebagai pejuang kebebasan, demokrasi dan slogan-slogan Hak Asasi Manusia. Rejim terhina Zionis Israel lebih legam wajahnya dari sebelumnya, dan ada pula sebagian dari negara-negara Arab yang, dalam ujian besar ini, menjadi pecundang yang melengkapi keterhinaan mereka itu.

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ
"Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (Al-Syu'araa': 227).

Salam sejahtera atas hamba-hamba shaleh Allah Swt!
Sayyid Ali Husaini Khamenei4 Dzul Hijjah Yang Suci, 1429 H.

Jumat, 05 Desember 2008

Imam Ali dan Nahjul Balaghah

Sementara itu, sebagai seorang ilmuan besar, muwahhid dan ârif, banyak sekali pidato dan kata-kata beliau tentang ketuhanan, tauhid, ilmu-ilmu Al-Quran, kenabian, akhlak dan metode mengelola negara yang berlandaskan Al-Quran serta negara yang adil. Imam Ali as memilik metode tersendiri dalam mengungkapkan masalah-masalah akidah. Beliau telah menyampaikanya dalam bentuk khutbah, risalah, wejangan dan diskusi. Namun dikarenakan beliau tidak sempat menyusunya, sebagian apa yang beliau sampaikan itu hilang akibat beberapa peristiwa dan sebagian pendapat serta pemikiran beliau telah dikumpulkan dan disusun setelah beliau wafat sejak beberapa waktu yang cukup panjang. Sebagian pidato dan ucapan-ucapan beliau tentang itu semua sampai sekarang masih dapat kita baca dan kita kaji dalam kitab Nahjul Balâghah yang disusun oleh pemikir besar Islam bernama Sayyid Syarif Ridha. Begitu menakjubkan kata-kata Imam Ali dalam kitab itu, sampai-sampai ratusan ulama tertarik menyempatkan diri mengkaji dan memberikan syarah atau komentar.

Tidak ada orang yang membantah kedalaman dan keluasan ilmu beliau yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun kecuali Rasulullah saww. Setelah Al-Quran dan hadis Rasul, balaghah dan kefasihan beliau tidak dapat ditandingi siapa saja. Kenyataan ini diakui oleh para ulama dan para ilmuan, termasuk non-Muslim setelah menyaksikan pesona kata-kata Imam Ali dalam Nahjul Balâghah, sebuah kitab kebanggaan umat Islam khazanah warisan peninggalan manusia besar ini. Dalam kitab ini, kita bisa menyaksikan sebagian diantara sekian banyak tanda-tanda yang membuktikan betapa Imam Ali telah menghabiskan usianya dalam renungan, pengkajian dan pembahasan.

Nahjul Balâghah yang terdiri dari pidato dan ucapan-ucapan Imam Ali tersebut, meliputi berbagai macam persoalan, termasuk akidah, pengenalan terhadap Allah, alam semesta dan hukum kuasalitas, keistimewaan manusia serta kondisi berbagai umat, moral, sistem pemerintahan, sosial dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Namun dalam pidato-pidato itu, maksud utama Imam Ali bukan sekedar mengajarkan ilmu-ilmu alam atau teori-teori filsafat. Tujuan utama beliau adalah untuk mengantar manusia ke hakikat yang tinggi melalui ketajaman indera dan logika. Yaitu hakikat yang akan menggiring manusia menuju Sang Khâliq yang Maha Esa. Kitab ini dari segi kesusasteraan dan seni yang memanfaatkan lafaz-lafaz Arab, tiada tara dan tandingnya.

Beliau mengesankan seorang filosof Ilahi terkemuka manakala beliau menerangkan masalah-masalah Tauhîd dan sifat-sifat Allah. Dalam menerangkan masalah Jihad, beliau akan tampak sebagai panglima perang yang pemberani yang sekaligus sangat tajam dan terperinci dalam menjelaskan strategi perang kepada para komandan pasukan bawahannya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah ketajaman pemikiran-pemikiran beliau dalam menjelaskan dasar-dasar pemerintahan. Sehingga praktis ahli-ahli sejarah menyebutnya sebagai negarawan. Beliau juga dikenal sangat fasih berbicara mengenai rumus-rumus keterbelakangan dan kemajuan berbagai peradaban serta jalan menuju ketenteraman sosial, politik dan militer.

Syaikh Muhammad Abduh, salah seorang komentator Kitab Nahjul Balâghah mengatakan: "Dalam kalimat-kalimat Imam Ali terlihat hakikat mukjizat. Tokoh besar ini, dengan kalimat-kalimatnya ada kalanya mengantar manusia ke alam supernatural dan ada kalanya pula ia menggiring perhatian manusia kepada suasana alam dunia. Keberanian dan keteguhan telah beliau kristalkan, dan ketika beliau mensifatinya, seorang yang pemberani pun akan bergetar, dan jika ia menjelaskan mengenai cinta dan kasih sayang, orang yang keras hati pun akan tersentuh."

Mengenai keagungan kitab Nahjul Balagah serta kefasihan dan kebalighan Imam Ali as yang tiada taranya, telah banyak dikemukakan oleh para pemikir termasuk ilmuan dan pemikir non-Muslim. Narse Sean, seorang politikus Inggris ketika berbicara tentang Nahjul Balâghah mengenai Imam Ali mengatakan: "Jika sang pembicara (kalimat-kalimat di Nahjul Balâghah ini sekarang berdiri di mimbar Kufah, maka kalian akan menyaksikan wahai kaum Muslimin bahwa masjid Kufah dengan segala keluasannya akan diterjang gelombang rakyat Maroko untuk menimba lautan ilmu Ali ibn Abi Thalib."

Pesan-pesan Imam Ali as. mengandung berbagai konsep yang sangat bermakna. Ia membukakan pintu bagi manusia menuju Allah. Seorang pengkaji beragama Kristen bernama Amin Nakhlah dalam ucapan yang disampaikannya kepada seseorang yang meminta agar memilihkan kalimat-kalimat indah Imam Ali ibn Abi Thalib yang termuat dalam kitab Nahjul Balâghah menulis dalam bukunya: "Berbinar-binar rasanya manakala kubaca lembaran-lembaran kitab Nahjul Balâghah. Namun aku tidak tahu bagaimana aku harus memilih kalimat-kalimat yang termuat dalam kitab itu. Pekerjaan ini benar-benar ibarat memilih mutiara di antara mutiara-mutiara lain. Namun akhirnya pekerjaan ini selesai juga. Tapi sebenarnya tanganku telah meninggalkan mutiara-mutiara yang lain, karena pandanganku telah dibingungkan oleh cahaya kalimat-kalimat itu. Sejumlah kalimat itu telah kupilih, dan ingatlah bahwa sinar kalimat-kalimat itu adalah cahaya dari kefasihan dan kebalighan (mudah ditangkap dan difahami serta indah) kata-kata Ali ibn Abi Thalib.

Memang mempelajarai pandangan-pandangan Imam Ali dalam berbagai masalah akan menggiring hati manusia kepada suasana alam yang sangat menakjubkan. Khotbah-khotbah beliau diakui sangat dalam dan penuh makna. Masalah akhlak dan penyucian jiwa dalam khotbah-khotbah beliau juga termasuk masalah yang paling diutamakan. Karena penataran moral sangat berperan dalam usaha membangun masyarakat yang sehat.

Menurut beliau, kejujuran adalah fokus penting dalam masalah-masalah akhlak. Bahkan beliau memandangnya sebagai salah satu tanda keimanan dan mengatakan bahwa seseorang yang jujur selalu mendapat kemuliaan dan pendusta akan jatuh ke jurang kemusnahan.

Dalam pidato Imam Ali dapat kita saksikan bahwa kejujuran adalah salah satu hal yang esensial dalam sebuah kehidupan yang sederhana dan sehat. Imam Ali as dalam sebuah pidatonya mengenai kehiduapan yang bahagia menjelaskan sebagai berikut:

"Betapa hinanya seseorang yang bersikap merendah di saat memerlukan dan bersikap angkuh pada saat tidak memerlukan. Memuji seseorang secara berlebihan adalah menjilat dan sebaliknya, memuji seseorang tidak dengan pujian yang semestinya adalah hasud. Seseorang yang mencari-cari kekurangan dan aib masyarakat dan menilainya sebagai keburukan, kemudian aib itu ia terima, maka orang ini tak punya harga diri. Apa yang tidak kau lakukan, janganlah kau ucapkan. Janganlah kau lakukan kebaikan hanya untuk riya' dan janganlah kau tinggalkan kebaikan hanya karena malu."

Imam Ali as dalam pidato-pidatonya tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap masalah-masalah manusia dan kehidupan. Setiap poin mengenai itu semua telah beliau sampaikan dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang sangat menarik.

Imam Ali as pernah berpesan bahwa seseorang tidak perlu mempersoalkan kekhilafan orang lain selama tidak menggangu kemaslahatan masyarakat. Beliau juga sangat mencela "ghibah" atau mempergunjing orang lain. Imam Ali as. berpesan bahwa seseorang demi menjaga akhlaknya dari dosa dan noda hendaknya menyesalinya dengan segala keikhlasan kepada diri sendiri.

Dalam hal ini beliau mengatakan: "Sesalilah segala sesuatu yang menuntut penyesalanmu jika kau lakukan, karena (orang lain) tidak akan menuntut penyesalan atas perbuatan baik."

Maksud Imam Ali as ialah seseorang hendaknya tidak keberatan menyatakan penyesalannya jika berbuat hal yang tercela dan membuatnya malu di depan orang lain, begitu pula di depan diri sendiri. Karena ini adalah perbuatan baik, dan perbuatan baik bukan hanya tidak membuat malu seseorang, malah justru memuliakan seseorang.

Diantara masalah penting dalam Nahjul Balâghah adalah masalah hak-hak manusia dan kewajiban setiap individu dalam bermasyarakat. Imam Ali telah membahas masalah ini dalam berbagai kesempatan. Antaranya adalah mengenai hubungan timbal balik antara hak seorang pemimpin dengan rakyat.

Imam Ali as tidak menilai hubungan itu sebagaimana layaknya hubungan penguasa dan rakyat, sehingga seorang pemimpin punya hak mutlak untuk dipatuhi dalam arti tidak ada celah sama sekali bagi rakyatnya untuk mengkritiknya. Hubungan ini, menurut Imam Ali harus didasari rasa tanggungjawab rakyat dan para pemimpin untuk menciptakan keadilan sosial dan maslahat umum. Karena masing-masing memiliki hak dan tugas-tugas tersendiri.

Imam Ali dalam khutbahnya yang ke 34 dalam kitab Nahjul Balâghah mengatakan:

"Wahai masyarakat! Aku selaku pemimpin kalian, memiliki hak atas kalian dan kalianpun punya hak atas diriku. Adapun hak kalian atasku adalah aku harus berkhidmat demi keinginan-keinginan baik kalian. Aku harus menjalankan hak-hak kalian atas baitul-mâl, aku harus mendidik kalian agar tingkat pengetahuan kalian bertambah. Dan dengan demikian kalian akan mengerti hak yang kumiliki atas kalian, yaitu kalian harus menepati janji yang pernah kalian berikan kepadaku, baik didepanku atau tidak, jadilah kalian orang yang baik. Berilah respon yang positif jika aku menyeru kalian untuk mengerjakan sesuatu, dan janganlah kalian berusaha untuk berkelit."

Dalam pidatonya yang lain, Imam Ali pernah mengingatkan bahwa seorang pemimpin hendaknya tidak menanti pujian dan penghargaan dari masyarakat atas tugas-tugas yang telah ia laksanakan. Imam Ali juga berpendapat bahwa rakyat hendaknya bisa meletakkan posisinya sebagai penasehat pemimpinnya dan tidak perlu takut atau segan menyampaikan kritik bila kebijaksanaannya perlu dikritik. Dalam hal ini, beliau berkata:

"Janganlah kalian berkata kepadaku seperti kata-kata yang biasa disampaikan kepada orang yang zalim. Janganlah kalian keberatan menjelaskan kebenaran sebagaimana kebenaran disembunyikan di depan masyarakat yang murka. Janganlah kalian menjilat dan berlagak di hadapanku. Yakinlah bahwa perkataan yang hak bagiku adalah sangat berharga."

(Dikutip dari www.irib.ir)

Minggu, 30 November 2008

Asyura di dalam Al-Qur'an

Peringatan tragedi berdarah pembantaian cucu sang Nabi, hampir dilupakan. Ada yang menyikapi dgn antusias semangat mendukung, ada yang biasa-biasa saja, ada yang diam tak menyikapi, bahkan ada yang membid'ahkan. Bagaimanakah seharusnya mereka?.

Al-Qur'an bukan kitab kisah-kisah umat terdahulu, akan tetapi al-Qur'an adalah kitab standar umat yang mencari kebenaran, yang isinya memuat kisah-kisah umat terdahulu yang dapat dijadikan ibrah atau pelajaran bagi umat masa kini atau umat yang akan datang.

Seseorang yang lapar, dia akan mencari makanan, seseorang yang dahaga, dia akan mencari sumber air, dan saya yakin! orang yang rohaninya kering, dia akan mencari sumber kehidupan, penuntun jalan kebenaran, yaitu al-Qur'an.

Semua kisah di dalam al-Qur'an merupakan sebaik-baiknya kisah, sebagaimana Allah berfirman di dalam Qs. Yusuf: 2 - 3, Kami menceritakan kepadamu (wahai Rasul), kisah-kisah yang terbaik dgn mewahyukan al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhynya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yg belum mengetahui. (ingatlah) ketika Yusuf berkata kpd ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.

Allah swt juga berfirman di dalam surah yang sama ayat: 111, Sesungguhynya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Kisah Yusuf, ayahnya (Ya'qub), dan sebelas saudaranya diceritakan di dalam al-Qur'an, - pertanyaan - bagaimana dengan kisah al-Husein, putra dari putri Nabi Muhammad saww.

Ketika Nabi Ibrahim mendo'a memohon kpd Allah, agar dianugerahi keturunan yang shaleh, Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, anugerahkanlah daku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (As-Shaffat: 100)

Permohonan Ibrahim diterima oleh Allah dan Menjawab: Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat sabar (yaitu Nabi Ismail). (As-Shaffat: 101)

Kemudian Allah menceritakan: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup utk berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ismail menjawab: wahai ayah, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kpd-mu, insya Allah kamu mendapatkan termasuk orang-orang yang bersabar.

Tatkala keduanya telah berserah diri, Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya.
Maksud dari atas pelipisnya, adalah bagian belakang lehernya.

Kami Panggil dia: Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberikan balasan kpd orang-orang yang berbuat baik. sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus (anak itu) dengan sembelihan yang besar.
(As-Shaffat)

Perlu digaris bawahi ayat 107-nya, bahwa tafsiran mayoritas ahli tafsir, bahwa tebusan itu diganti dengan seekor kambing kibas. Dalam bahasa Arab, kata 'Azhim, adalah sesuatu yang agung, di atas besar. seperti firman Allah: Dan sesungguhnya kamu (wahai Rasul), benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qolam: 4)

Di dalam kitab 'uyun akhbar ar-Ridha, ayat 107 dari surah as-Shaffat itu ditafsirkan bahwa tebusan itu benar diganti dg tebusan seekor kibas, tapi sebelumnya Ibrahim as. diberi kabar yang menyayat hati, yang membuat Ibrahim menangis terus-menerus setelah peristiwa itu, bahwa keturunannya yang bernama al-Husein, cucu dari Nabi yang suci lagi agung, disembelih oleh umat kakeknya sendiri, di sebuah padang yg bernama Karbala.

Seharusnya umat yang dicintai oleh Nabinya, tidak melupakan peristiwa putra Fathimah as. Apalagi al-Husein adalah termasuk penghulu pemuda penghuni surga. Dari mana datangnya awal mulanya, bahwa 10 Muharram adalah hari raya aytam? bukankah setiap hari raya itu semua orang bergembira. al-Habib Abdullah ibn Alwi al-Haddad ra. shahibur Ratib berkata di dalam kitabnya Tatsbit al-Fuad: Hari Asyura adalah hari duka, tidak boleh menampakkan kegembiraan pada hari itu.

Bagi masyarakat yang bermazhab Ja'fari, peristiwa mengenang al-Husein adalah suatu momen untuk mengungkapkan rasa kecintaan kepadanya. Mengapa harus menangis, bukankah kisah itu sudah berlalu dan tak patut utk ditangisi?

Seseorang yang ditinggal mati oleh ayah yang dicintainya, setiap mengingat ayahnya pasti orang itu menangis. Sebelum menjawab, kita harus memahami dahulu kisah tangisan Ya'qub yang mengakibatkan dari tangisan tersebut kedua matanya menjadi buta.

Firman Allah: Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: Aduhai duka citaku terhadap Yusuf, dan kedua matanya menjadi putih (buta) karena kesedihan dan dia adalah orang yg menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf, sehingga kamu tertimpa penyakit yang berat atau termasuk orang yang binasa. Ya'qub menjawab: Sesungguhnya hanya kpd Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tidak ketahui. (Qs. Yusuf: 84 - 86)

Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya, Hakim an-Naisaburi dalam Mustadraknya meriwayatkan, bahwa ar-Rasul saww. keluar menemui para sahabatnya setelah Jibril as memberitahunya tentang terbunuhnya al-Husein dan ia (Nabi) membawa tanah Karbala. Beliau saww. menangis tersedu-sedu di hadapan para sahabatnya, sehingga mereka menanyakan hal tersebut. Beliau memberi tahu mereka, bahwa al-Husein akan terbunuh di Karbala. Beliau saww. menangis dan para sahabatpun ikut menangis.

Apakah mereka para Nabi as. melakukan bid'ah dengan tangisan Imam Husein? sungguh tidak wahai saudaraku.

Dalam kitab Mustadrak disebutkan bahwa Nabi saww. bersabda: Sesungguhnya terbunuhnya al-Husein menciptakan bara pada hati orang mukmin yang tak akan pernah padam.

Imam as-Sajjad Ali Ali Zaenal Abidin sang saksi Karbala, tawanan yang merdeka, setelah pulang dari Karbala akan menuju Madinah, utk melaksanakan acara arba'in (40 hari) atas terbunuh ayahnya. Ada yang bertanya sambil meledek: wahai Ali, siapa yang menang dalam pertempuran di Karbala, ayahmu atau Bani Umayyah? Imam menangis dan tak menjawab. Tak lama kemudian terdengar suara azan di masjid Nabawi, sesampai pada lafazh asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.........Imam Ali Zaenal Abidin as menjawab: sebutan nama kakekku terus disebut sepanjang zaman, sedangkan sebutan nama Bani Umayyah akan hilang ditelan masa.

Imam Ali Zaenal Abidin ibn Husein as. puluhan tahun menangisi ayahnya. Ada yang berkata: tangisanmu yang berkepanjangan itu akan mengakibatkan buruk kpd-mu. Imam menjawab: aku mengadukan hal ini kpd-Allah, aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui, Ya'qub adalah seorang Nabi, anaknya Nabi, ia menangisi anaknya, Yusuf, sampai matanya buta, sedangkan aku, aku melihat ayahku, sahabat-sahabatku, paman-pamanku dibantai di hadapanku, setiap kali aku melihat bibi-bibiku, aku teringat berlariannya mereka dari kemah ke kemah yang lain, bagaimana mungkin aku melupakan hal ini.

Hampir setiap pagi Imam as-Sajjad menghampiri pasar dan mendatanginya ke tukang jagal (pemotong) kambing. Imam berkata: wahai tuan, apakah kambing yang akan engkau sembelih, sudah engkau beri air minum? Dijawab: tak bermanfaat air baginya, karena kambing ini akan aku sembelih. Imam menangis dan berkata: wahai tuan, Aku adalah putra al-Husein, apakah anda tidak mendengar tentang ayahku, yang disembelih di Karbala dalam kehausan.

Karena kisah tersebut, di dalam mazhab Ja'fari, sunnah hukumnya, memberikan air minum kpd hewan yang akan disembelih.

Tanya Jawab;

Setiap peristiwa acara duka, yang dilakukan oleh masyarakat mazhab Ja'fari, selalu dibacakannya maqtal. Apa itu maqtal?
jawab: kisah tentang pembunuhan.

Bid'ah-kah hal itu?
jawab: Qs al-Maidah ayat 27 - 31 menceritakan kisah terbunuhnya Habil putra Adam as. setiap muslimin yang membaca al-Qur'an dan sampai pada surah tersebut, berarti membaca maqtal, jika bid'ah, berarti semua muslimin melakukan bid'ah.

Terdapat kisah yang berlebih-lebihan: ketika terbunuhnya Imam Husein, langit menangis, darimana sumbernya?
jawab: Qs. ad-Dukhan ayat 17 - 29, menceritakan tentang Musa as vs Fir'aun. Ayat 29-nya (setelah tenggelamnya Fir'aun) diceritakan bahwa langit dan bumi tidak menangisi mereka. Maka, mafhum mukhalafah (faham yang sebalik)nya, setiap kematian orang-orang yang shaleh (apalagi Imam Husein, sang maksum) langit dan bumi pasti menangis.

Salam bagimu wahai Abu Abdillah
Salam bagimu wahai Ali ibn al-Husein
Salam bagimu wahai putra-putra al-Husein
Dan salam bagimu wahai sahabat-sahabat al-Husein
wa rahmatullahi wa barakatuh

Rabu, 26 November 2008

Sajak Maulid Rasul dalam Konteks Empat Perjalanan Mulla Shadra

Al-Asfar Al-Arba'ah (Empat Perjalanan):

"Peta" Jalan Menuju Langit



Mulanya jiwa tak lain adalah titik debu; nuthfah

Ia bertransformasi menjadi kertas kosong; sang orok

Hari demi hari menjadikannya cermin; gemilang

Cermin yang melihat dan dilihat; manifestasi-Nya


Mulanya Muhammad tak lain adalah manusia; putra Adam

Ia bertransformasi menjad kosong; sang fana

Hari demi hari ia arungi nama Tuhannya; sang Baqa

Kini ia dalam segenap ruang dan waktu bersenandung; menuntun semesta kepada-Nya


Namun Muhammad telah sempurna; sempurna ia dan keluarganya dalam fana

Segala onak dan duri pula JERIT Karbala;

Adalah saksi; Muhammad dan keluarganya lebur dalam jalan keempat

Puncak kurban segala kurban; menuntun manusia kepada-Nya


Maka Muhammad adalah jalan

Pula Ali, Husein, Hasan dan Fathimah

Maka para pilihan suci dari keluarga nabi adalah jalan

Merekalah jalan yang lurus.

Minggu, 23 November 2008

Ayatullah Al-Uzhma Imam Ali Khamenei: Shalat Mengontrol Hawa Nafsu Manusia

19 November 2008
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Al-Uzhma Sayyid Ali Khamenei, dalam pertemuan dengan para peserta Konferensi Nasional Shalat ke-17, menyebut pendirian shalat dengan benar dan penuh konsentrasi pada bentuk dan kandungan shalat sebagai kunci paling utama dalam membenahi individu dan masyarakat. Beliau menekankan, syiar-syiar keislaman khususnya shalat harus nampak jelas dan transparan dalam masyarakat dan harus diperhatikan dalam setiap masalah.
Beliau menilai kewajiban syariat dan upaya menghindari yang haram sebagai akumulasi unsur-unsur yang menjamin kebahagiaan manusia. Ayatullah Al-Uzhma Khamenei mengatakan: Di antara unsur-unsur tersebut yang paling utama adalah shalat, sebab ialah yang mengontrol hawa nafsu yang selalu membujuk manusia ke arah pembangkangan".
Seraya menjelaskan bahwa kebahagiaan dan kehancuran manusia terletak pada caranya bersikap terhadap hawa nafsu, Rahbar menekankan: "Jika manusia dapat meredam hawa nafsunya ini dengan berdzikir dan mengingat Allah swt, maka ia akan sampai pada puncak kesempurnaan namun jika hawa nafsu ini dibiarkan tak terkendali, maka yang muncul adalah kezaliman, kafasadan, kemiskinan, dan arogansi".
Pemimpin Besar Revolusi Islam juga menekankan bahwa kontrol terhadap hawa nafsu ini bergantung pada dzikir dan mengingat Allah swt disertai dengan rasa membutuhkan Sang Pencipta dan merasa kerdil di hadapan keagungan Allah SWT. Beliau menambahkan: "Shalat dan dzikir kepada Allah SWT seperti ini akan menjauhkan manusia dari dosa dan kemungkaran, karena dzikir tersebut akan menumbuhkan kesadaran secara berkesinambungan dalam diri manusia dan oleh sebab itu setiap hari shalat dilakukan beberapa kali.
Beliau juga menyatakan bahwa sosialisasi shalat yang benar dalam masyarakat akan mewujudkan ketenteraman individu dan jiwa seseorang serta menciptakan rasa aman dan nyaman dalam masyarakat. Rahbar menandaskan: "Shalat yang benar adalah yang sempurna secara jasmani maupun ruhnya".
Pemimpin Besar Revolusi Islam menilai shalat yang tidak disertai dengan ruhnya sebagai shalat yang hanya berdampak kecil. Beliau mengatakan: "Bentuk dan rupa shalat pada hakikatnya telah disesuaikan dengan ruhnya dan pada proses sosialisasi shalat dalam masyarakat khususnya di antara para pemuda harus diperhatikan kesempurnaan bentuk dan ruh shalat".
Seraya mengingatkan kembali pengaruh shalat yang benar terhadap hati pemuda Muslim serta perwujudan harapan dan kebahagiaan maknawi dalam diri anak muda, Ayatullah Al-Uzhma Khamenei mengatakan: "Jika seseorang berusaha menunaikan shalat yang benar dan baik sejak usia muda, maka shalatnya pada usia tua juga tetap akan dibarengi dengan kekhusyukan".
Beliau juga menyinggung minimnya jumlah masjid dan mushalla di sentra-sentra publik seraya mengimbau: "Seluruh proyek pembangunan besar harus selalu dibarengi dengan pembangunan masjid dan pemerintah juga harus secara serius menyertakan hal ini dalam program kerjanya".
Pemimin Besar Revolusi Islam menekankan bahwa keberadaan sebuah masjid di -stasiun-stasiun metro, kereta api, terminal bus antarkota, bandar udara, dan distrik-distrik besar, harus diperhatikan. Beliau menegaskan: "Dalam penerbangan domestik dan luar negeri, jadwal penerbangan harus ditentukan sedemikian rupa sehingga ada waktu untuk menunaikan shalat. Beliau menambahkan pula bahwa dalam penerbangan yang tidak memungkinkan hal tersebut maka di dalam pesawat harus disediakan tempat untuk shalat".
Rahbar menilai perhatian terhadap hal-hal tersebut sebagai bukti upaya untuk menegakkan shalat. Beliau mengatakan: "Di semua kota khususnya kota-kota besar termasuk Tehran, harus dibangun berbagai masjid dan saat waktu shalat tiba, harus didirikan shalat berjamaah dan ketika waktu shalat, suara adzan harus dikumandangkan di seluruh kota di negara Islam ini.
Beliau menambahkan: "Dalam pembangunan distrik dan permukiman harus dibangun masjid yang sesuai dengan jumlah populasi penduduk dan proyek pembangunan seperti ini tidak boleh diberi izin jika tidak memperhatikan masalah pembangunan masjid".
Rahbar di akhir pernyataannya menegaskan, "Syiar-syiar keislaman harus tampak dalam masyarakat khususnya dalam arsitektur dan konstruksi bangunan."
Di awal pertemuan tersebut, Hujjatul Islam wal Muslimin Qaraati, Ketua Lembaga Penegakan Shalat, dalam laporannya menyinggung baiknya kondisi shalat dalam masyarakat khususnya di kampus-kampus serta sambutan positif para pemuda terhadap shalat, seraya mengatakan: "Dalam Konferensi Nasional Shalat ke-17 yang digelar di Universitas Tehran ini, panitia telah menerima kiriman 900 artikel dan 700 karya seni".
Di awal pertemuan ini, dilaksanakan shalat dzuhur dan ashar yang diimami oleh Ayatullah Al-Uzhma Khamenei.

Seputar Tauhid dalam Mazhab Ahlul Bait as.

Imam Ali as berkata:
“Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang disifati berbeda dengan sifat itu sendiri. Maka barangsiapa meletakkan suatu sifat kepada Allah berarti ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, maka ia mengakui bagian-bagian-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia akan menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.
Barangsiapa mengatakan: “Dalam apa Dia berada”, berarti ia berpendapat bahwa Ia bertempat, dan barangsiapa mengatakan: “Di atas apa Dia berada”, maka ia telah beranggapan bahwa Ia tidak berada di atas sesuatu lainnya.
Ia maujud, tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. Ia ada, tetapi bukan dari sesuatu yang tidak ada. Ia bersama segala sesuatu, tetapi tidak dalam kedekatan fisik. Ia berbeda dari segala sesuatu, tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. Ia berbuat, tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. Ia melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. Ia hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya Ia mungkin bersekutu atau yang mungkin Ia akan kehilangan karena ketiadaannya”.